Cerita Tulus Tentang Perjalanannya Membangun Tulus Company

Share

Muhammad Tulus atau biasa yang kita panggil Tulus, seperti yang kita tahu dia adalah seorang penyanyi dan penulis lagu Independent. Sejauh ini Tulus telah merilis 3 Album sejak tahun 2011 yang diantara menelurkan lagu-lagu hits seperti ‘Teman Hidup’, ‘Sewindu’, ‘Sepatu’, ‘Pamit’ hingga lagu ‘Monokrom’.

Pria kelahiran Bukittinggi, 20 Agustus 1987 ini dari awal pertama karirnya hingga melangkah sejauh ini, hanya mengandalkan manajemennya sendiri untuk memproduksi karya-karyanya.

Mungkin selama ini yang kita lihat Tulus adalah seorang penyanyi yang bersuara merdu yang memiliki ciri khas dengan banyak fans. Namun kali ini kita tidak membahas karya-karyanya, tetapi kita akan melihat sisi Tulus sebagai Co-Founder perusahaan yang dia namakan Tulus Company.

Tulus berkesempatan bercerita panjang lebar tentang perjalanan karirnya merintis Tulus Company saat menjadi salah satu pembicara di acara Creativepreneur Corner 2017, yang di adakan 4 Februari 2017 lalu.

“Mungkin teman-teman biasa melihat saya bernyanyi di atas panggung, yang kadang diiringi oleh band saya. Tapi sebenarnya yang tidak teman-teman lihat atau yang belum teman-teman lihat adalah banyak sekali kepala atau jiwa, banyak sekali tim yang berada di balik saya, dan tim itu bernama Tulus Company.” Kata Tulus berbicara di ribuan hadirin yang duduk menyimak presentasinya.

Tulus Company adalah perusahaan dibidang kreatif yang saat ini berfokus dalam bidang musik yang Tulus bangun bersama kakak kandungnya. 

Sebelum melanjutkan apa yang ingin di sampaikan, Tulus bertanya kepada beberapa penonton. “Ada yang tahu, Kunci sukses itu apa?”

Beberapa peserta yang ditunjuk menjawab “Action”, “Konsistensi”,dan “Doa”. Jawaban itu benar semua, tapi ada satu hal yang tidak boleh di lupakan menurut Tulus, yaitu adalah Mengetahui apa yang akan kita kerjakan.

kebanyakan apa yang telah di lakukan oleh orang-orang sukses terdahulu adalah melakukan hal diatas, dia mengetahui apa yang akan diperbuat dan mengetahui jalan mana yang dia pilih.

Tulus memberi contohnya “Jika seseorang ingin terjun ke industri film, tapi cara membuat film aja dia tidak pernah,atau memainkan peran di sebuah film aja gak pernah, boro-boro di film, nongol di depan orang sebanyak ini aja udah deg-degan Seperti saya sekarang” Seluruh hadirin tertawa mendengar kata tulus.

Jadi kebanyakan orang telah sukses akan mengetahui atau mencari dulu bakat yang dia punya lalu mulai memikirkan apa yang harus dia lakukan.

Mencari Kekurangan

Tulus memberikan sedikit tambahan terhadap filosofi diatas (Mengetahui apa yang akan kita kerjakan). Tulus ingin membangun sebuah sistem dimana dia justru memulai mencari apa Kekurangannya.

“Saya tahu bisa bernyanyi, tapi saya tidak bisa memainkan satu alat musik pun, walau sudah menulis lagu hampir 100 lagu. saya juga tidak bisa aransemen padahal kalau rekaman harus ada aransemen, apalagi ngurusin uang yang pada awalnya saya tidak mengerti sama sekali” Tutur Tulus.

“Lalu yang saya lakukan adalah, menyadari kekurangan-kekurangan itu, lalu kemudian mencari orang-orang dengan kualitas yang kita tentukan sebagai organ penggerak awal yang bisa melengkapi kekurangan-kekurangan kita.”

“Saya tidak bisa bermain alat musik, berarti saya harus mencari teman yang bisa memainkan alat musik. Saya gak bisa bikin aransemen, saya cari produser yang bisa membantu saya membangun aransemen menjadi lagu saya yang gak hanya lagu mentah saja. Lalu saya mencari manajer dan semua sistem itu terkumpul dalam sistem pendukung.”

Sistem Pendukung Yang Makin Membesar

Sistem pendukung dalam Tulus Company ini awalnya sangat kecil sekali, hanya 3 orang. Tulus, kakak Tulus yang bertidak sebagai eksekutif produser dan manajernya yang waktu itu pun hanya mengurus jadwal harian. Mengurus jadwal panggung ke panggung yang pada saat itu masih kecil sekali, hanya sebatas itu.

“Kami mau terus berkembang dan tidak ingin hanya sebatas itu saja. Sistem ini kemudian membesar, semakin banyak kebutuhan, semakin banyak pihak yang dipenuhi, dan juga semakin banyak juga masalah yang dihadapi.” Kata Tulus.

Tulus memiliki prinsip dari awal terhadap bisnis yang ingin dibangunnya, “Saya gak mau bisnis itu gak hanya menguntungkan untuk diri sendiri, saya ingin bisnis saya itu juga bermanfaat untuk orang lain, bermanfaat orang-orang yang membantu saya.”

“Sistem yang saya terapkan yang tiap kali ada anggota baru atau siapapun yang mau bergabung dengan kita, kita selalu berbagi mimpi, jadi kita saling berbagi mimpi saya apa dan mimpi dia maunya apa. Karena tiap mimpi orang itu berbeda-beda. Tidak setiap orang suka musik, tidak semua orang mempunyai keinginan yang sama.”

Dengan mimpi yang sudah telah diketahui bersama, Tulus dan teman yang berbagi mimpi itu pun akhirnya membuat sinergi antara satu sama lain. Tulus memberi contoh nyata yang paling ekstrim.

“Asisten manajer saya, dia sama sekali tidak tertarik dengan musik, bukan penggemar musik. Tapi dia ingin masuk ke manajerial, cuma mimpi terbesar dia adalah ingin menjadi Travel Blogger, menjadi seorang penulis perjalanan yang kemudian di publikasikan ke Blognya.” Kata tulus.

“Tapi saya suka sama orang ini, menurut saya orang ini sangat berpotensial bekerjasama dalam tim saya. Jadinya adalah, ‘Oke kamu ikutin saya, nanti kalo kita keliling-keliling berbagai belahan untuk mempromosikan musik ini. Kamu bisa nulis, bisa foto dan lo bisa jadikan amunisi untuk pembuatan blog Kamu’. Jadi dia kerjasama dengan saya sambil mencari bahan pembuatan blog dia. Tapi sepulang dari perjalanan itu dia menulis blognya dia sehingga pelan-pelan mewujudkan mimpinya dia.”

Tepuk tangan menyambut meriah oleh para hadirin yang terkesima dengan cara Tulus membuat Sinergi.

Dimulai Dari Nol

Tulus beserta kakak dan manajernya memulai belajar semua dari nol. Tulus menceritakan pengalamannya belajar dari nol. Tulus sendiri merupakan sarjana arsitektur yang mana bertolak belakang dengan profesi yang ia jalani saat ini, penyanyi. Sedangkan kakaknya yang bertindak eksekutif produser adalah lulusan kimia dan manajer Tulus adalah sarjana ahli tekstil, lebih sama sekali tidak ada hubungannya dengan musik. 

“Kita semua benar-benar memulai dan belajar dari nol. Saat timnya membesar pun, kita sama-sama mulai belajar, dan saya sebut itu sebagai sistem yang tumbuh bersama.”

Jadi, Tulus berpendapat kalau kebersamaan kerjasama yang telah dijalani ini seharusnya tidak hanya memberikan value kepada kepala-kepalanya saja. Tapi juga kepada seluruh orang disemua lini yang telah sama-sama belajar, bahkan sampai teman-teman yang ada dilapangan, dari panggung ke panggung.

Bekerjasama di Level Tertentu

Kata Tulus, tumbuh bersama itu tidak hanya dari nol. Seiring waktu berada keposisi 7,8 dan seterusnya, dan yang menarik saat tumbuh bersama-sama hingga di posisi tertentu, anggap di posisi 10, itu kita bisa bekerjasama dengan “ruang” yang lain.

“Saat saya berada di posisi/level 10 dan yang lain berada di posisi yang sama, entah dia dalam bentuk apapun yang bisa meningkatkan value kita, kita bisa bekerjasama dengan dia.”

“Contoh yang terjadi beberapa waktu yang lalu saya bekerjasama dengan videografer (dari Embara Films & Pont Pict) dan seniman dari solo ibu Melati Suryodarmo untuk mengisi video klip saya yang berjudul “Ruang Sendiri”. Beberapa waktu yang lalu saya masuk kedalam nominasi di sebuah ajang penghargaan musik dan ajang perfilman Independent di Indonesia. Sedihnya adalah saya tidak mendapatkan piala sama sekali.”

“Tapi, yang mendapatkan penghargaan adalah sutradara dan talent dari musik video saya! Ketika tumbuh bersama, Saya di untungkan dengan orang-orang yang menikmati musik videonya, kemudian videografer dan talent yang terlibat juga di untungkan pada saat yang bersamaan”

Itulah definisi Tumbuh bersama yang dimaksud Tulus sesungguhnya. Tidak hanya untuk seseorang saja, tapi terus berkembang dengan bekerjasama pihak lain.

Sehingga setiap orang yang tumbuh bersama, biasanya akan lebih mudah untuk memberikan kritik terhadap temannya, tapi beda halnya kalau orang yang baru ketemu langsung kita beri masukan atau kritik biasanya agak sulit diterima. benarkan?

Di awali sebuah Mimpi seorang Anak

“Mimpi saya di musik, sejujurnya berawal dari diri saya sendiri. saya ingin sekali menjadi seorang musikus, dari kecil guru SD saya juga memuji saya mempunyai suara yang bagus dan saya percaya sekali itu.” Tulus sembari tertawa.

“Tapi setelah beberapa waktu, untuk mewujudkan mimpi itu tidak hanya tentang diri kamu sendiri, tapi bagaimana kita bermanfaat untuk orang lain.” 

“Dari album pertama yang dirilis 2011 kemarin dan sampai saat ini menjadi 3 album. Dari 1 anak yang bernama Tulus, yang merasa bisa bernyanyi dan mempunyai mimpi yang besar di dunia musik, 1 orang tadi sudah berkembang sampai sejauh ini dengan total kolaborator dalam 3 album Tulus sudah mencapai lebih dari 100 orang!” Tutup Tulus.

Lalu tulus mengakhiri ceritanya dengan memutar video yang merupakan rekap perjalanan musik Tulus secara visual yang dikemas lebih puitis. 

Itulah sebuah cerita singkat perjalanan Tulus dalam membangun perusahaannya yang bernama Tulus Company. Ternyata Tulus tidak hanya jago bernyanyi, tetapi juga menyampaikan sebuah pesan semangat untuk kita semua agar bisa sukses di bidangnya masing-masing. 

Mengetahui apa yang akan dikerjakan dengan mencari kekurangan, lalu berbagi mimpi agar bisa saling bersinergi. Tidak takut memulai semuanya dari Nol dengan definisi tumbuh bersama. Hingga akhirnya yang paling pasti adalah sukses yang ingin kita raih harus berdampak bagi sekeliling kita juga. Itulah beberapa tips dari Tulus diatas, Semoga bisa menginspirasi! 🙂

Mau terus Update perkembangan Musik Indonesia terkini?

Yuk, Gabung ke Komunitas Mousaik! Daftarkan diri kamu dibawah ini.
Jangan lupa juga untuk ikuti Mousaik di Media Sosial untuk mengikuti terus perkembangan musik Di Indonesia! 
Facebook   :  facebook.com/mousaik.id/
Instagram :  instagram.com/mousaik/
Youtube    :  youtube.com/Mousaik
Line            : @Mousaik
Share