Kisah di Balik Lagu-lagu Indie Hits Favorit Kita!

Share

Kisah di Balik Lagu-lagu Indie Hits Favorit Kita!

Beberapa tahun belakangan, Industri Musik khususnya lagu-lagu Indie perlahan-lahan mulai naik daun dan menambah jumlah penggemarnya. Harus diakui, musik serta band Indie sebelumnya tidak lebih populer jika dibandingkan dengan sekarang. Gigs dan acara musik beraliran Indie juga tidak banyak ditemukan sebelumnya, lain dengan hari-hari sekarang.

Familiar dengan lagu-lagu Danilla, Payung Teduh, Efek Rumah Kaca, atau Barasuara? Bahkan mereka yang bukan penikmat musik Indie bisa jadi mengenal lagu-lagu dari grup-grup di atas karena kerabat atau teman yang kerap memutar lagu-lagu mereka. Namun, selain jadi pendengar, pernah nggak kita penasaran dengan cerita di balik lagu-lagu tersebut? Kali ini Mousaik sudah menghimpun beberapa informasi soal cerita di balik lagu-lagu Indie favorit kita.

Sampai Jadi Debu – Banda Neira

Bercerita di sebuah acara musik, sang mantan personel Ananda Badudu menyebutkan bahwa lagu ini terinspirasi dari kisah cinta oma dan opanya yang kesehatannya telah menurun dimakan usia. Sang oma yang terkena penyakit Demensia, pada akhirnya harus berpulang.

Tiga bulan kemudian, sang opa yang kerap menjaga oma hingga melupakan kesehatannya sendiri pada akhirnya pergi menyusul oma. Kisah ini kemudian dituliskan secara lengkap oleh Banda Neira dalam situs Tumblr mereka.

Angin Pujaan Hujan – Payung Teduh

Lagu ini merupakan buah spontanitas sang eks vokalis, Is, yang lahir ketika ia mengajar murid-muridnya. “Datang dari mimpi semalam….” yang menjadi lirik pembuka lagu ini secara spontan divokalkan oleh Is sambil menulisnya di papan tulis. “Kalau nggak ada murid yang ngerekam, saya nggak bakal tahu kalau lagu itu jadi,” tutur Is dilansir dari HAI.

Akad – Payung Teduh

Tahu nggak sih, lagu wajib di tiap resepsi pernikahan ini sebenarnya pernah terbengkalai pengerjaannya, bahkan liriknya pernah dicemooh oleh 90% komentar yang masuk ketika perilisan video liriknya. Penggemar dan penonton menganggap liriknya terlalu ‘klise’ dibandingkan karya-karya Payung Teduh sebelumnya yang amat metaforis. Namun, Akad sendiri sebenarnya diciptakan untuk ‘menyentil’ para jomblo, atau mereka yang telah berpasangan tetapi belum punya mental yang cukup untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan.

“Yang cewek bilang ‘udah lima tahun nih enggak dilamar-lamar’ sementara yang cowok bilang ‘gue sih mau tapi kayaknya si cewek suka menghindar kalau diajak ngomong soal pernikahan, terus udah keburu tua’. Jadi maksud gue, kadang pernikahan itu ditunggu oleh seorang perempuan, juga ditunggu oleh seorang lelaki tapi masalahnya dua-duanya tidak segera membicarakan hal itu. Nah makanya ada liriknya ‘Namun bilang kau ingin sendiri cepat cepatlah sampaikan kepadaku, agar aku tak berharap dan kau juga tak sedih’,” tutur Is dilansir Kompas.

Baca Juga: Referensi Lagu-Lagu Cinta Dari Musisi Indie Untuk Hari Kasih Sayang!

Hagia – Barasuara

Buat yang nggak tau, Hagia sendiri merupakan nama sebuah bangunan di Istanbul, Turki. Bangunan ini pada mulanya didirikan sebagai gereja, tapi seiring berjalannya waktu, bangunan ini berubah menjadi sebuah masjid dan pada saat ini dimanfaatkan sebagai sebuah museum.

Lagu yang kental mengandung pesan berbau agamis ini dimaksudkan Barasuara agar pendengarnya belajar menghormati kepercayaan orang lain dan hidup berdampingan dengan damai karena “…..kita bebas untuk percaya”.

Kalapuna – Danilla

Kalapuna terdengar seperti kata yang tidak memiliki arti, karena memang Kalapuna sendiri merupakan gabungan dari dua kata; Kala dan Punah. Dilansir Detik, Danilla menyebutkan bahwa kala pasti punah, yang ketika digabungkan ternyata terdengar bagus, sehingga terciptalah judul Kalapuna. Kalapuna sendiri bercerita mengenai segala hal yang pastinya memiliki masa untuk hilang; punah.

“’Kalapuna’ itu menceritakan kalau ada waktunya sesuatu itu berhenti, itu punah. Semua itu ada waktunya dalam hal apapun. Yang disesali adalah kekecewaan kenapa itu harus punah,” ujar Danilla dilansir dari Detik.

Man Upon The Hill – Stars and Rabbit

Meski baru dirilis dua tahun setelah lagunya rilis, video klip “Man Upon The Hills” ternyata mampu menarik perhatian dua juta penonton hingga artikel ini ditulis. Pemandangan latar Waingapu, Sumba Timur yang ditampilkan sebagai latar belakang disebut duo asal Yogyakarta ini mampu mewakili kebutuhan visual untuk video musik lagu ini.

Selain video yang memukau, “Man Upon The Hills” sendiri ternyata punya daya pikat lain bagi para pendengarnya. Lagu ini bercerita mengenai konsep lingkaran kehidupan di mana ditampilkan juga simbol hubungan manusia dengan alam. Menggambarkan hal itu, dua personil Stars and Rabit, Elda dan Adi berperan sebagai dua entitas yang saling terkoneksi meski mereka tidak pernah menyadari akan hal itu. Perbedaan ruang dan waktu tidak menghalangi hubungan mereka sehingga mereka terus mencari satu sama lain.

Alkohol – SISITIPSI

Grup berusia belia ini memiliki banyak cerita di balik kepopuleran mereka. Single “Alkohol” yang mengangkat nama SISITIPSI sendiri tidak dimaksudkan untuk mengajak atau mengumbar hal yang tidak baik, melainkan semata-mata sebuah potret realita yang terjadi di tengah masyarakat. “Alkohol” sendiri merupakan sebuah single yang terdapat dalam album 73%. Namun, nama album ini tidak merepresentasikan kadar alkohol.

“Sebenarnya itu bukan soal alkohol, itu identitas kami Cikini No.73 (alamat IKJ), kenapa pakai persen? karena kami belum sempurna, belum seratus persen,” jelas Eka salah satu anggota SISITIPSI dilansir dari metrotvnews.com.

(By Kezia Maharani)

Mau terus Update perkembangan Musik Indonesia terkini?

Yuk, Gabung ke Komunitas Mousaik! Daftarkan diri kamu dibawah ini.
Jangan lupa juga untuk ikuti Mousaik di Media Sosial untuk mengikuti terus perkembangan musik Di Indonesia! 
Facebook   :  facebook.com/mousaik.id/
Instagram :  instagram.com/mousaik/
Youtube    :  youtube.com/Mousaik
Line            : @Mousaik
Share